Lainnya

Pengertian Jurnal Penjualan dan Jenisnya

Semua perusahaan retail pasti memiliki bisnis utama yang melakukan jual beli secara berkesinambungan. Tentu tidak semua transaksi jual beli bisa dilakukan secara tunai. Oleh akibat itu, berarti buat bidang usaha guna memakai harian perdagangan serta pembelian. Jurnal belanja dan jurnal penjualan khusus ini memudahkan kita dalam memasukkan dan membuat laporan keuangan. Maka mesti dijalani pencatatan selaku hati-hati, jitu, positif serta tepat. Simak artikel berikut untuk penjelasan lebih lengkapnya.

Pengertian

Jurnal adalah jurnal khusus untuk suatu siklus akuntansi yang tugasnya mencatat transaksi penjualan. Kita dapat menggunakan jurnal khusus untuk mencatat dan memposting ke akun untuk komputerisasi. Biasanya informasi yang disimpan dalam jurnal penjualan untuk setiap transaksi, antara lain; (1) Tanggal transaksi, (2) Nomor rekening, (3) Nama pelanggan, (4) Nomor faktur Jumlah penjualan (debit piutang dan kredit rekening penjualan).
Pada umumnya hanya piutang yang dicatat dalam jurnal penjualan. Artinya transaksi tunai tidak dicatat dan transaksi tunai akan dimasukkan ke dalam jurnal penerimaan kas. Namun, pada kenyataannya, banyak yang mungkin masih menggunakan akun jurnal untuk mencatat penjualan tunai. Jikalau kamu mau menatap serta menatap selisih yang tercantum dalam novel besar, kamu mampu menelusuri harian. kamu mampu mengenakan nomor faktur yang terdaftar buat mengakses tiruan faktur. Untuk memudahkan pengelolaan invoice di perusahaan Anda, Anda bisa menggunakan e -Faktur yang dapat melacak invoice secara otomatis.
Semakin kompleks transaksi, semakin banyak perusahaan membutuhkan sistem pencatatan yang baik. Sistem pencatatan ini dikenal dengan sistem akuntansi. Sistem tersebut terus bergulir dari waktu ke waktu hingga membentuk suatu siklus yang disebut siklus akuntansi.

Jenis-Jenis Jurnal Penjualan

Secara umum ada 4 (empat) jenis jurnal penjualan, dan penjelasannya adalah sebagai berikut:
Tunai
Tentu saja perusahaan dapat menjual barang secara tunai atau kredit. Penjualan tunai biasanya masuk ke kasir dan akan dicatat dalam rekening.
Berikut ini adalah contoh ilustrasi menggunakan metode perpetual:
Kita dapat mengasumsikan bahwa pada tanggal 11 November 2021, PT HashMicro menjual barang seharga Rp. 3.000.000.
Transaksi penjualan ini dapat dicatat sebagai berikut:
(Debit) Kas = Rp 3.000.000
(Kredit) Penjualan = Rp 3.000.000
Dalam sistem persediaan perpetual, harga pokok penjualan dan pengurangan persediaan juga harus dicatat. Dengan ini, akun bekal menampakkan jumlah bekal yang belum terjual.
Asumsikan bahwa harga pokok penjualan pada 12 November 2021 adalah $1.000.000.
Ayat jurnal untuk mencatat harga pokok penjualan dan pengurangan persediaan adalah sebagai berikut:
(Debit) Harga Pokok Penjualan = Rp1.000.000
(Kredit) Persediaan = Rp1.000.000
Penjualan dengan kartu kredit akan diproses oleh lembaga kliring yang menghubungkan bank penerbit kartu kredit. Misalnya Kartu Kredit BCA, Bank Mandiri.
Bank nantinya akan mentransfer uang tunai dari hasil penjualan ke rekening bank pengecer. Jadi, jika pembeli membayar tunai atau menggunakan kartu kredit untuk membayar pembeliannya, penjualan akan dicatat seperti yang saya tunjukkan di atas.
Biaya pemrosesan yang dibayarkan oleh lembaga kliring atau bank penerbit kartu kredit adalah sekitar 2-3% dari angka transaksi penjualan.
Berikut cara mencatat pengeluaran kartu kredit secara berkala:
(Debit) Biaya kartu kredit = Rp60.000
(Kredit) Tunai = Rp60.000
Kredit
Jurnal penjualan kredit adalah jurnal yang berfungsi untuk mencatat jenis-jenis transaksi penjualan kredit. Penjual biasanya mencatat penjualan sebagai debit ke Piutang Usaha atau Piutang Usaha dan akun kredit. Risiko penjualan secara kredit, akan terlihat pada jurnal wesel tagih dan wesel bayar.
Perhatikan pencatatan dengan menggunakan metode perpetual di bawah ini:
Jurnal penjualan secara kredit sebesar Rp. 500.000 dan harga pokok penjualan Rp. 250.000 untuk PT HashMicro adalah sebagai berikut:
(Debit) Piutang =
(Kredit) Penjualan =
Debit) Harga Pokok Penjualan = Rp250.000
(Kredit) Persediaan = Rp250.000
Jurnal diskon penjualan
Ketentuan dalam penjualan biasanya dinyatakan dalam penjualan faktur dikirim ke pembeli. Syarat-syarat dalam suatu pembayaran yang disepakati oleh kedua belah pihak, pembeli dan penjual disebut syarat-syarat kredit. Jika pembayaran terjadi pada saat barang diserahkan, maka syaratnya adalah tunai atau net cash.
Sebaliknya, jika pembeli diperbolehkan untuk mendapatkan keringanan waktu untuk membayar, itu disebut periode kredit. Pengkreditan dimulai dari tanggal transaksi penjualan yang tertera pada invoice. Apabila pembayaran jatuh tempo sesudah bertepatan pada faktur semacam 30 hari, alkisah syaratnya yakni 30 hari bersih, yang ditulis n/30.
Sedangkan pembayaran jatuh tempo pada akhir bulan yang sama dengan bulan penjualan, syaratnya ditulis sebagai n/eom (akhir bulan). Untuk mendorong pembeli membayar sebelum tanggal jatuh tempo, penjual biasanya menawarkan diskon kepada pembeli. Misalnya, penjual dapat menawarkan diskon 2% jika pembeli membayar dalam waktu 10 hari sejak tanggal faktur.
Namun, jika pembeli tidak mengambil diskon, harga yang tertera pada faktur akan jatuh tempo dalam 30 hari. Penulisan kondisi ini adalah sebagai 2/10. n/30 dan dibaca sebagai diskon 2% jika dibayar dalam 10 hari, jumlah bersih akan jatuh tempo dalam 30 hari. Diskon yang diambil pembeli untuk membayar lebih awal disimpan sebagai diskon penjualan oleh penjual.
Biasanya penjual mencatat diskon penjualan dalam akun tersendiri. Akun korting pemasaran yakni akun kebalikan  pemasaran.
Perhatikan ilustrasi jurnal penjualan berikut dengan diskon dan PPN:
Katakanlah uang tunai yang diterima penjual dalam periode diskon (10 hari) dari penjualan kredit sebesar $1.500.000 dan PPN 10%.
Maka pencatatan jurnal transaksi penjualan adalah seperti ini :Pengertian Jurnal Penjualan dan Jenisnya

  1.  (Debit) Tunai = Rp1.320.000
  2. (Debit) PPN = Rp150.000
  3. (Debit) Potongan Penjualan = Rp30.000
  4. (Kredit) Piutang Usaha = Rp1.500.000

Jurnal retur dan potongan penjualan
Barang yang telah dibeli pelanggan mereka dapat mengembalikannya kepada penjual yang merupakan retur penjualan . Selain itu karena alasan barang rusak, cacat atau sebab lainnya, penjual dapat menurunkan harga barang/memberikan potongan penjualan (sales allowance).
Jika retur penjualan atau diskon terjadi secara kredit. Penjual biasanya membuat nota kredit atau nota kredit untuk pembeli yang melakukan retur. Memo ini menunjukkan jumlah dan alasan kredit penjual dalam piutang , yang mana piutang jika terjadi penjualan kredit berarti jumlahnya berkurang. Untuk mempermudah proses ini, Anda dapat mengintegrasikan sistem akuntansi dengan penjualan CRM  untuk melacak hutang dan piutang untuk memastikan arus kas yang lancar.
Seperti potongan penjualan, retur penjualan dan potongan harga dapat mengurangi pendapatan. Karena bisa menambah ongkos kirim (ongkosong) penjualan barang dan pengeluaran lainnya. Karena persediaan terus diperbarui, penjual menambahkan biaya barang yang dikembalikan ke akun persediaan. Penjual harus mengkredit harga pokok yang dikembalikan pelanggan ke akun harga pokok penjualan, karena akun ini didebit pada saat penjualan awal dicatat.

Kesimpulan

Itulah pembahasan singkat tentang jurnal penjualan dan jenis-jenisnya. Jurnal jenis ini sangat penting bagi sebuah bisnis karena proses jual beli yang berlangsung terus menerus sehingga pencatatan arus kas juga perlu diperhatikan oleh berbagai pelaku bisnis yang ada. Namun masih banyak perusahaan yang melakukan pencatatan jurnal penjualan secara manual yang kurang efisien dan memakan waktu yang lama. Pencatatan manual ini rawan terjadi kesalahan yang menghambat proses bisnis Anda karena data sangat penting untuk keberlangsungan perusahaan. Oleh karena itu, Anda memerlukan perangkat lunak akuntansi

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Check Also
Close
Back to top button